Gue Suka Headshot (No Spoiler)


Gue cuma lihat trailer Headshot sekali dan ga punya ekspektasi apa-apa. Maaf, tapi begitulah sikap gue tiap nonton film lokal. Tantangan terbesar dari filmmaker Indonesia dalam bikin film Indonesia untuk penonton Indonesia adalah mengaktivasikan suspension of disbelief, simply karena kita sudah familiar dengan setting-nya. Inilah kenapa, demi apresiasi, gue ga mau punya ekspektasi apa-apa.
Lima belas menit pertama gue ga yakin sebetulnya. Ceritanya tidak langsung jelas. Tapi bolehlah usaha artistiknya. Ishmael (Iko Uwais), karakter utama, koma berbulan-bulan, bangun-bangun pengen berantem. Wah, Kill Bill amat. Tapi ternyata ceritanya belok jauh.

Dinamika kelahinya tipikal, seperti video game. Mulai dari lawan yang paling cemen sampai big boss. Tapi gue salut sama ceritanya yang menunjukkan rasa hormat pada setiap level kelahi dan konflik. Ishmael selalu dihadapkan pada situasi yang sulit. Nyaris ga ada deus ex machina. Beberapa perkelahian, physical stake-nya tinggi. Namun saat keadaan fisik tidak terlalu terancam, emotional stake-nya yang dimainin. It’s a nice trick, and I appreciate it very much. Beberapa perkelahian juga terjadi di ruang sempit yang gue ga ngerti mereka pasang kamera di sebelah mana, but it’s good.

Ceritanya ternyata straightforward, tidak melebar ke mana-mana. Penyampaiannya aja yang ga berurutan, karena ceritanya si Ishmael ini amnesia. Karakterisasi sendiri tidak terlalu kompleks, tapi nggak dua dimensi juga. Kelihatan mereka masing-masing punya kedalaman. Ada beberapa karakter yang jelas banget plot device. Tapi kalau ga ada plot device itu, ceritanya ga maju. Maka sekecil apapun kontribusinya, gue hargai keberadaan karakter-karakter itu. Bahkan karakter ‘ga penting’ ini juga dikasih kesimpulan. Gue semakin melihat rasa hormat yang mereka berikan terhadap cerita.

I appreciated the details they paid attention to in the story. What they showed and focused on are what they used in the movie. Granted, ada yang bocor juga dan sebetulnya bisa di-cut tanpa merusak plot, tapi sampai sini saja gue sudah hargai usahanya.

Headshot ada dramanya sedikit, jadi mungkin ada kesan menye-menye. Gue sih demen bagian menye-menyenya. Tapi itu mah selera ya :)) Dialog juga ga macam-macam. Secukupnya aja supaya ceritanya jalan, asal efektif menggambarkan karakter. Beberapa one liner-nya bahkan gue suka banget.

Makeup oke banget. Score dan soundtrack gue suka. Koreografi berantem gue juga suka. Yah ini filmya Iko Uwais yang kesekian, sudah sewajarnya berantemnya makin oke. Performance para aktor juga decent. Bahkan ada beberapa karakter yang minim dialog, jadi lebih berat di akting, dan buat gue mereka ga jelek-jelek amat. Khusus buat Chelsea Islan, menurut gue dia sebagai Ailin adalah performance dia yang terbaik dibandingkan sama film-film dia yang lain. I think she delivered a stellar performance here. Dan ada Rifnu Wikana! One liner favorit gue datang dari doi, “Mau ngomong apa lo anjing?”

Gue mengakui film ini ada kurangnya. Ada adegan berantem yang ga perlu. Cerita dan karakterisasi juga harusnya bisa lebih mendalam. Tapi gue selalu merasa kelemahan film Indonesia adalah bikin cerita yang koheren. Maka selama film itu nyambung dari awal sampai akhir, jelas poin-poinnya, gue akan menilai filmnya baik. Ada beberapa gap dalam cerita, tapi gue ikhlaskan. Gue ga keberatan mengisi gap itu dengan imajinasi gue sendiri. Termasuk soal Ishmael yang ditembak di kepala tapi ga mati. Gue merasa bisa menjelaskan itu, tapi nanti spoiler :))

Karakterpun juga cukup tersampaikan latar belakangnya apa, motivasinya apa, dan yang mau dia lakukan apa. Bahkan dengan dialog yang minimal, pengembangan karakternya masih ada. Terutama untuk karakter Ailin, yang gue pikir cuma di situ untuk jadi pajangan doang. Ternyata Ailin bisa mikir juga. Ishmael sendiri juga mengalami pendewasaan karakter, yang ditunjukkan secara halus banget tanpa banyak bacot. Dia ga cuma berantem aja karena terpaksa keadaan.

Gue bisa melihat kemungkinan spin off, dan buat gue itu artinya potensinya besar. Karena film ini punya ruang untuk dikembangkan lagi.

Buat gue Headshot punya lebih banyak hal untuk diapresiasi daripada kekurangan untuk disesali. Generally, gue bahkan lebih suka ini daripada The Raid. Buat gue, The Raid maksimal di kelahi tapi mengorbankan cerita dan pengembangan karakter (yang mana kekurangan ini diperbaiki di The Raid 2).

Selama nonton Headshot, gue berasa nonton live action manga. Mungkin bisa di-merchandise jadi komik juga. Sepertinya apa yang mau mereka ceritakan akan tersampaikan lebih baik lewat situ.

Gue terkejut banyak yang ga suka sama filmnya. Mungkin gue harus nonton lagi dan melihat penilaian gue berubah apa nggak. Either I missed a lot of things or I have a high tolerance for everything that Indonesian movies lack. I don’t know enough about moviemaking or martial arts, jadi maaf kalau gue sok tahu. But I did find it entertaining. As someone who writes, I focused more on story coherence and character development, and I think both are great. It’s another milestone for Indonesian movies. I would watch it again.

Share Button