Fiksi Ilmiah, “Amorisio”

Picture by Paul Morris from Unsplash

Cinta sudah bisa diukur. Kasih tidak paham bagaimana caranya, tapi dia tahu alatnya mahal. Amorisio adalah ciptaan penentu zaman yang tidak terjangkau oleh orang-orang sepertinya. Kasih cukup mengepel lantai markas Amorisio saja.

Siang itu, Kasih sedang mengelap potret pencipta Amorisio, Ibu Ananda. Lama Ibu Ananda sudah tiada, tetapi wajahnya masih menjadi duta Amorisio. Sepasang matanya menatap tajam para calon pembeli Amorisio, bibirnya merekah mungil merah. Rambutnya mengabu-abu, seperti rambut Kasih.

Semua orang sudah dengar sejarahnya. Ibu Ananda mendedikasikan hidupnya untuk menciptakan Amorisio. Ia mengasingkan diri di rumahnya yang berpagar tinggi layaknya benteng. Keluar-keluar ia membawa sebuah alat raksasa dengan kabel-kabel untuk dicolok di kepala, dada, dan tangan. Mesin Amorisio yang pertama.

Ibu Ananda kaya raya seketika. Sekian banyak korban wafat akibat setruman Amorisio dikesampingkan begitu saja, sebab terobosan ini terlalu luar biasa. Tidak ada lagi manusia yang perlu patah hati, karena sekarang cinta sudah bisa ditimbang. Sejak saat itu, Ibu Ananda tidak pernah lagi kelihatan. Kata orang, dia menikmati hartanya sendirian.

“Sekarang Amorisio sudah bisa masuk kantong, mas. Waktu scan-nya juga lebih singkat,” bual agen penjual kepada seorang pelanggan. Amorisio sudah lama meninggalkan kursi listriknya. Sekarang cinta bisa dipetakan dengan sekali pindai.

“Hati-hati, jeng, sama mas-mas kayak gitu,” bisik seorang ibu-ibu berias wajah tebal kepada temannya. “Mas-mas kayak gini ganteng, tapi mata duitan.”

“Mereka duit dari mana beli Amorisio, jeng?” tanya temannya.

“Ya dari nipu tante-tante kayak kita ini. Buat mereka, Amorisio itu investasi. Senjata utama untuk cari sugar mama.”

Kasih sudah hapal percakapan macam itu. Dia bahkan bisa menebak siapa yang membeli Amorisio untuk mencari mangsa atau menguji kesetiaan pasangan. Baru tadi pagi Kasih menguping rapat tim pusat data. Diketahui 63% pembelian Amorisio diikuti oleh perceraian dan 8% menunjukkan anak-anak diusir dari rumah. Ternyata banyak yang tak bisa menerima pasangannya sudah tidak mencintainya lagi atau buah hatinya tidak tahu terima kasih. Angka ini membuat tim pemasaran khawatir penjualan Amorisio akan menurun.

Kasih melipat lap dan memperhatikan hasil kerjanya. Ibu Ananda masih tersenyum kaku dari balik bingkainya. Kadang Kasih bertanya, siapakah subyek ujian Amorisio yang paling pertama? Selamatkah dia?

Kasih mengganti seragam kerjanya dan izin pulang lebih cepat. Kereta magnet sepi karena belum jam bubar karyawan. Kasih membeli setangkai bunga, lalu bergegas menuju rumah. Dari jendela yang terbuka ia mencium aroma kue yang dipanggang Rahma. Kasih membuka pintu dan kaki-kaki kecil bergegas menyambutnya.

“Ibu pulang!” mulut kecil itu mengumumkan kehadiran Kasih. Ia mengambil tangan Kasih dan memimpinnya ke dapur.

“Aku bantu Ibu bikin kue,” ceritanya pada Kasih. Rahma geleng-geleng mendengar celoteh anak mereka.

“Ibu, cepetan, aku mau tiup lilin,” lanjut si kecil.

Rahma meletakkan kue di pinggir meja dan menyalakan lima lilinnya. Kasih melengkapinya dengan bunga. Mereka meniup lilin bersama-sama dan mengabadikan momentumnya dalam sebuah gambar. Kasih tidak pernah merasa senyum-senyum ini perlu untuk diukurnya.

Share Button